Langsung ke konten utama

COOPER Jalan - Jalan di Museum Kereta Api Ambarawa


Haiii sobatQ, bagaimana akhir pekan kalian, apa masih terbelenggu di bawah selimut dengan menggengam secangkir kopi hangan ditemani merdunya suara hujan yang turun dan dinginnya angin hujan di sore hari yang mencoba memelukmu, dengan aroma tanah basah dan daun yang memenuhi lubang hidungmu, sungguh nikmat bila begitu….
Tapi tidak begitu sobat, ini masih musim panas, sepanas hati ini melihat dia bergandengan tangan dengan dirinya, aduuuuhhh… atit kawan.
Begini sobat, di akhir pekan ini saya merencanakan untuk berkunjung di museum Kereta Api di Ambarawa.
Sejarah singkat Museum ini.
 Nama Willem I yang disandang oleh stasiun ini berasal dari nama benteng yang letaknya tak jauh dari kompleks stasiun ini, yaitu Benteng Willem I yang dikenal juga sebagai "Benteng Pendhem". Dinamakan Willem I karena dibangun untuk menghargai jasa-jasa Raja Belanda yang bertakhta pada saat itu, yaitu Raja Willem I dari Belanda.
Agar mobilisasi tentara dan logistik KNIL lancar, maka Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) diberi tugas oleh Pemerintah Kolonial di bawah Gubernur Jenderal baron Sloet van de Beele untuk membangun jalur kereta api baru yang menghubungkan Semarang dengan benteng ini. Ternyata, pembangunan jalur ini satu paket dengan jalur kereta api Samarang NIS–Gundih–Solo Balapan–Lempuyangan. Maka setelah suksesnya NIS membangun jalur Samarang–Tangoeng yang selesai pada tanggal 10 Agustus 1867, maka pada awal tahun 1869, selain memperpanjang jalurnya menuju Gundih, NIS juga membangun jalur baru menuju Bringin dan selanjutnya diperpanjang menuju Ambarawa. Pada tanggal 21 Mei 1873, jalur Samarang–Vorstenlanden dan Kedungjati–Ambarawa telah selesai dibangun.[3][4][5]
Periode kedua adalah pembangunan jalur kereta api Secang–Ambarawa. Karena jalur kereta apinya melalui pegunungan dengan kontur yang terjal dan topografi yang sukar untuk ditaklukkan, maka agar laju kereta api terkendali, dibuatlah sistem rel gigi. Jalur ini menghubungkan kawasan strategis militer Hindia Belanda di Kota Magelang dengan Benteng Willem I di Ambarawa. Hal ini bertujuan untuk mempermudah mobilitas tentara KNIL di kawasan tersebut. Pada tanggal 1 Februari 1905, jalur segmen ini telah selesai dibangun.[6]
Stasiun ini menjadi pertemuan jalur NIS yang menggunakan lebar sepur 1.435 mm (arah Kedungjati) dengan jalur dengan sepur 1.067 mm (arah Secang). Sejak Juni 1942, jalur kereta api Kedungjati–Willem I dan Semarang Tawang–Solo Balapan–Yogyakarta yang semula menggunakan sepur 1.435 mm, akhirnya diubah menjadi 1.067 mm.[7]
Saya berangkat dari kota tercinta, kota dimana saya pertama kali melihat dunia, pertama kali saya bernafas, dan pertama kali juga saya mengompol, di sinilah di kota ambarawa kota tempat kelahiranQ. Museum ini tidak terlalu jauh dari tempat tinggalQ. Hanya dengan berkendara roda 2 ckup menghabiskan waktu 10 menit. Jalan kaki pun bisa, 1 jam bila berjalan kaki.
Sesampainya di museum kereta api, langsunglah menuju loket untuk membeli karcis. Ckup dengan uang 10Rb kalian sudah bisa bebas berkeliling di wilayah museum kereta api. Disini juga disediakan fasilitas menjajal naik kereta lokomotif uap, dengan mengeluarkan biaya 50Rb, kalian akan menikmati perjalanan naik kereta api lokomotif uap dari stasiun ambarawa menuju stasiun tuntang. Di dalam perjalanan kalian akan di perlihatkan pemandangan kota tercintaQ dengan gugusan gunung, hamparan sawah, danau rawa pening dan sungai tuntang serta melewati desa sekitar. Indah bukan main sobat.
Disini saya berkunjung Bersama keluarga cooper, keluarga cooper adalah keluarga yang mengasikkan. Ketika mereka masuk mereka tidak membayar tiket, karena mereka saya selundupkan di dalam tas Bersama simata satu. Seperti biasa sobat, saya disini berburu sekaligus menambah ilmu. Ilmu sejarah pula.
Baiklah sobat, inilah hasil buruan saya ketika berburu di museum kereta api ambarawa.



















https://nchixrimba.blogspot.com/2018/12/jalan-jalan-dikebun-raya-bogor.html

hanya itu yang bisa saya berikan, karena selebihnya file2 foto yang saya punya telah hilang beserta laptop karena telah di gondol maling, sediiihnya..........
ok.sobat. sampai ketemu di next trip 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelaparan dan kesusilaan

  Kelaparan dan Kesusilaan yang kabur “ Ketika kemiskinan berperang melawan kesusilaan, batas antara yang boleh dan tidak boleh akan menjadi kabur “ Duryudana Kelaparan. Satu dari tiga pilar masalah kehidupan manusia selepas Wabah dan Perang. terjadi dari perkara kelaparan akan memberikan dampak terjadinya wabah penyakit, kemudian akan terjadi perpecahan perang untuk memperebutkan sumber pangan ataupun obat - obatan. Pertanyaannya, Kenapa kelaparan bisa terjadi ? Kelaparan bisa terjadi karena beberapa faktor alam, populasi dan ketersediaan sumber pangan atupun dari sistem sosial yang ada. Sejarah mencatat kebanyakan kelaparan sering terjadi diwilayah yang subur. Ada apa ?? karena dimulainya revolusi pertanian dan kesadaran akan Hak kepemilikan. Setiap pribadi pasti pernah merasakan kelaparan, entah karena sedang menjalankan puasa atau memang dalam kondisi tidak mendapatkan sumber pangan. Dari faktor alam kelaparan terjadi karena tidak adanya ataupun sedikitnya sum...