Part 4 Teruntuk Rembulan Gelap juga baru dimulai, dan engkau sudah tampak sendu Yang tenang di antara keheningan malam Sesekali lolongan belantara mengusik dirimu Dan engkau tetap tenang di atas sana Ketika engkau mulai tinggi, tertinggal kekosongan Terlelap dalam pelukan harapan mimpi Sesekali ada yg menatap mu dengan tatapan kosong juga putus Menitipkan kehampaan dari bawah, menjadi titik titik cahaya langit Banyak yg berucap, dan engkau tetap diam Banyak yg meminta engkau berbicara, Sekali lagi engkau diam Sesekali ada yg takut pada engkau, dan engkau hanya bersinar Cukup rembulan, selamanya engkau membisu Katakan saja, untuk kali ini, sekali ini saja Kalau engkau sejatinya tak diam, hanya menerima Kalau engkau sejatinya tak terang, tapi menyinari Kalau engkau mendengar kidung kerinduan juga murka Dan engkau menerima hampa dan sunyi Dengan mendirikan lentera di langit untuk mereka Mereka yg tak lelah untuk meraih terang Oowh Rembulan, diam mu sejuta untaian makn...
Petikan buih buih ombak yang tergelar dalam samudra kehidupan, tertulis dalam pasir putih awan awan hati manusia. Guguran daun daun cakra manggilingan yang terjewantahkan dalam sastra sastra dan tulisan tentang seonggok daging beserta galihnya. kidung - kidung suci dari manusia yang tumbuh bersama panji panji dharma kebaikan cipta budi wening.