Langsung ke konten utama

Kincir Angin

 



Kincir Angin


tepat tengah hari di penghujung musim kemarau bulan oktober. Angin semilir membawa hawa panas yang hanya menyejukkan untuk sesaat. Sang surya tanpa ampun membakar suasana siang itu. Rembulan berjalan minitik trotoar berpeluh deras membasahi baju, tiga puluh menit rembulan berjalan, hanya karena ingin berjalan.


Tepat di bawah jembatan penyebrangan jalan, terdapat halte dengan kanopi yang telah usang, dibelakangnya terdapat pohon mahoni. Rembulan berhenti dan memilih untuk duduk dalam halte, berteduh dari panasnya mentari yang terasa ingin membakar kulit. Tak jauh dari situ terlihat satu panggung kehidupan tergelar hanya secuil, tapi terlihat dan terdengan mampu menggunguli tingginya pilar pilar kemegahan.


“ Di, kangmas punya mainan baru, bermainlah sama mainan baru ini di tepi sana yang teduh Di “ terdengar keras dan bergetar, seolah telah lama menempa dirinya dengan keadaan. Sang Mbarep yang berucap barusan. “ yeeeeee......, terima kasih kangmas. Waah mobil truk warna merah. Terima kasih kang “ berkatalah sang Ragil, mungkin telah berusia sekitar delapan tahun, memakai kaos oblong berwarna merah, kulit berwarna hitam legam terbakar sinar matahari, dengan muka ceria seceria anak – anak tanpa beban.


“ mainlah di tepi sana Di, di bawah pohon biar tidak kepanasan “ Berkata sang Mbarep sambil memberikan mainan kepada sang Ragil.” tak mau kang, saya mau di bawah gerobak ini saja, “ sang Ragil berkata sambil meraih mainan, kemudian berjalan dan berjongkok di bawah gerobak.


Gerobak itu bukanlah gerobak berisi makanan atau minuman yang diperdagangkan di pinggir jalan raya. Gerobak sederhana yang hanya berisi permata bagi mereka, yang nantinya akan dijual ke pengepul dengan harga yang tak seberapa untuk digunakan meneruskan perjuangan hidup ini yang terasa tidak adil.


Rembulan menerima pandangan itu mentah mentah, dan meneguknya bersama air putih, seolah jernihnya ikatan itu mencekat di kerongkongannya, mencoba mengikat dalam sendi sendi kehidupan yang mereka perjuangkan untuk mengerti dan memahami kebahagian itu apa. Mungkin bagi mereka kebagiaan hanyalah omong kosong ketika berada di tengah tengah kemegahan tanpa mata.


“ Di, Bangun Di, bantu kangmas merapikan bawaan ini, Ragil sedang bermain di bawah gerobak, sebaiknya kamu bangun biar tidak membuat gerobak bergerak dan melukai ragil “ dengan suara pelan tapi tegas Mbarep membangunkan si Tengah untuk bangun, yang sedari tadi tetidur pulas didalam gerobak. '' iya Kang “ terjawab dengan suara desikit terkantuk Tengah bangun dari tidurnya.


“ ini minum dulu Di “ sebotol air minum terulurkan ke si Tengah. “ Terima kasih Kang, Emang kita punya mainan Kang, kox ragil mainan di bawah gerobak “ tanya si Tengah kepada Mbarep, karena seingat Tengah kita tak punya mainan apapun. “ tadi kakang memungut mainan yang dibuang sama seseorang, karena kakang pikir mainan itu masih bagus “ jawab Mbarep sambil melihat Ragil yang tengah asik bermain dengan mainan barunya. “ ingin rasanya saya membelikan mainan yang benar benar baru beli dari toko untuk sang Ragil “ sambil tertunduk menatap bawaan dalam gerobak yang setengah terisi barang.


“ Tengah, .. kakang sebetulnya ingin sekali menyekolahkan Ragil biar berpendidikan seperti anak – anak di luaran sana. Tanpa perlu ikut kita berkeliling memungut rongsokan “ sambil bersandar di gerobak Mbarep berkata kepada Tengah. “ siadi juga kepingin kang, tapi sekolah di sini mahal kang, anak jalanan kayak kita apa mungkin bisa sekolah kang “


“ Di, anak – anak kayak kita seharusnya bisa sekolah. Hanya saja sekolah di sini menjadi barang dagangan Di, yang diperjualkan dengan segala kenyamanan, seharusnya sekolah disini bisa menjadi sarana buat mengentaskan kebodohan dengan gratis “ Mbarep akhirnya luruh terduduk bersender gerobak sambil menatap kendaraan yang lalu lalang.


“ Kang, sekolah di sini bukan menjadi barang dagangan kang, hanya saja sekolah disini hanya kepalsuan, tertindih dalam tatanan sosial yang dibentuk tanpa mengindahkan kaidah pitutur para sesepuh jaman mbiyen, “ Tengah kembali menidurkan badanya didalam gerobak.


“ sudahlah Di, biar Ragil menikmati masa kecilnya yang bahagia sebagaimana keadaan kita, Kolo mongso Ragil bakal mengerti, “


“ kangmas, saya lapar kang, ayo pulang kang” Ragil beranjak berdiri sambil menghampiri kedua kakaknya yang tengah berbincang. “ Ayoo Di kita pulang, kamu naik ke gerobak saja Ragil, biar gerobak didorong oleh Tengah “ Sambil berkata Mbarep beranjak berdiri sambil menggapai tiang kemudi gerobak, dan perlahan mereka berjalan menyusuri pinggiran jalanan meninggalkan bayangan dibelakang mereka.


Rembulan tertatap pada satu benda yang ditancapkan pada depan gerobak, berputar – putar terbawa angin. satu keajaiban bagi mereka yang selalu mengikuti kemanapun mereka bepergian. Kincir angin dari kertas berwarna hijau tua terlihat sedikit usang berputar putar meniupkan angin, seolah berputar megngikuti gerak laku cakra manggilingan.

****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2

Salam lestari kawan kawan pecinta maupun penggiat dan para aktifis lingkungan, salam hijaukan bumi. kali ini saya akan membagikan pengalaman saya serta keceriaan di dalam acara Aksi Seni Untuk Lingkungan yang ke-2. acara Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2 ini kami mengambil tema " Darurat Agraria ". dengan alasan untuk melanjutkan tugas kita selanjutnya. Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2 kami adakan di taman kota salatiga. sekaligus untuk mempopulerkan dan mengenalkan taman kota salatiga kepada para penggiat outdoor dan para pecinta alam di berbagai kota. karena acara ini akan dihariri oleh peserta dari berbagai kota di jawa tengah bahkan bisa sampai di luar jawa tengah. tema " Darurat Agraria " kami ambil bukan dengan maksut yang sembarangan, kami ambil dengan maksut untuk memperingatkan dan memberikan informasi kepada publik, kalau di tanah tercinta ini sedang mengalami darurat agraria, lahan pertanian yang telah di porak porandakan oleh para kapitalisme. deng...

Menjelajah Danau Biru Cisoka

kawan, kalian pasti ada yan pernah mendengar atau mengunjungi danau biru cisoka, yang sudah pernah kesana pasti kalian tak akan mencari artikel tentang itu, ya ini pengalaman saya waktu menjelajah danau biru cisoka, yang katanya warna air disini sebiru cintaku pada dia, atau sebiru warna matamu, atau mungkin sebiru langit pagi, yang penting birulah. danau biru cisoka, berada di wilayah tigaraksa, banten. untuk menuju kesini saya memilih untuk naik KRL, karena kalau pakai kendaraan pribadi mungkin saya akan tersesat dan tak bisa pulang ke hatimu, hehehe..... saya berangkat dari tangerang, ketapang, cipondoh, di kontrakan saya, iyalah saya disini cuman perantauan. itu alamat sementara, alamat sesunguhnya nanti sesuai alamat rumah si.dia. biar ndak tersesat lagi arah pulang. dengan mengunakan KRL, perjalanan dari stasiun kalideres menuju stasiun tigaraksa, membutuhkan waktu kurang lebih 2jam. dan dari stasiun kalideres pertama harus transit di stasiun tanah abang, dari stasiun ta...