Oktavian Si Pengamen kecil Dirgantara tampak murung siang itu, gumpalan awan hitam membungkam birunya langit. Berombak – ombak awan hitam mengambang di angkasa. Titik titik hujan mulai turun menikam bumi dan kehidupannya. Siang itu gerimis tanpa menghadirkan angin dingin, tapi kehidupan di bawahnya terasa membikin gerah. Kepulan asap kendaraan bermotor seolah mengusir gerimis. Riuh dan bising suara kenalpot bermotor, bersahutan para penjaja makanan menawarkan dagangannya. Aroma minyak goreng menyerbak, dan berbagai dagangan dengan warna warni serta rasa beraneka ragam digelar sepanjang pinggir jalan. Kaki ini melangkah keluar dari stasiun menuju halaman depan yang langsung berjumpa dengan panggung kehidupan yang ganas, melebihi ganasnya beruang lagi hibernasi. Rasa lapar diperut telah meronta – ronta, mungkin cacing – cacing didalam perut sedang konser musik keroncong sehingga membikin perut bergejolak keroncongan. Berhenti pada salah satu penjual nasi goreng dan memesan ...
Petikan buih buih ombak yang tergelar dalam samudra kehidupan, tertulis dalam pasir putih awan awan hati manusia. Guguran daun daun cakra manggilingan yang terjewantahkan dalam sastra sastra dan tulisan tentang seonggok daging beserta galihnya. kidung - kidung suci dari manusia yang tumbuh bersama panji panji dharma kebaikan cipta budi wening.