Oktavian
Si Pengamen kecil
Dirgantara tampak murung siang itu, gumpalan awan hitam membungkam birunya langit. Berombak – ombak awan hitam mengambang di angkasa. Titik titik hujan mulai turun menikam bumi dan kehidupannya. Siang itu gerimis tanpa menghadirkan angin dingin, tapi kehidupan di bawahnya terasa membikin gerah. Kepulan asap kendaraan bermotor seolah mengusir gerimis. Riuh dan bising suara kenalpot bermotor, bersahutan para penjaja makanan menawarkan dagangannya. Aroma minyak goreng menyerbak, dan berbagai dagangan dengan warna warni serta rasa beraneka ragam digelar sepanjang pinggir jalan.
Kaki ini melangkah keluar dari stasiun menuju halaman depan yang langsung berjumpa dengan panggung kehidupan yang ganas, melebihi ganasnya beruang lagi hibernasi.
Rasa lapar diperut telah meronta – ronta, mungkin cacing – cacing didalam perut sedang konser musik keroncong sehingga membikin perut bergejolak keroncongan. Berhenti pada salah satu penjual nasi goreng dan memesan nasi goreng pastinya bukan memesan ketoprak atau bubur.
“ Silahkan bang, “ bapak penjual memberikan pesanan saya.
“ terima kasih pak “ sambil menerima makanan yang masih mengepul uap panas.
Menghilangkan dunia nyata untuk sejenak dan mengalihkan pandangan pada sepiring kenikmatan, untuk meredakan cacing – cacing didalam perut yang lagi konser, dengan ini kuharap para cacing kenyang dan tidur nyenyak. Saya lahap dengan kesetanan.
“ permisi om, boleh saya minta makan sama om, saya belum makan dari tadi malam “ seorang anak kecil datang duduk didepan saya dengan tatapan wajah polos.
Saya kaget dan langsung terpaku pada seorang anak kecil yang barusan berbicara karena saya dipanggil om ( terlihat setua itukah wajah saya, seingat saya baru berusia 28tahun. Dan besok pagi baru saya beranjak di usia 29 tahun ). Anak perempuan berumur kisar delapan tahun, memakai kaos oblong berwarna merah muda, serta celana pendek. Ramput terikat berkucir kuda. Dengan wajah polos tanpa memikir keadaan. Tangan kanannya menenteng gitar hijau muda kecil dengan ujung kepala gitar tersemat botol bekas yang telah dipotong, sehingga menjadi tempat untuk menaruh uang receh pemberian orang – orang dari hasil mengadu suara dengan bising kendaraan dan bisingnya para penjaja dagangan. Terlihat didalam botol itu hanya tedapat beberapa uang dua ribuan dan recehan tak seberapa yang akan berbunyi gemerincing ketika kepala gitar berayun.
“ silahkan kamu pesan makanan yang kamu mau “ sambil menghentikan ayunan sendok kedalam mulut.
“ terima kasih om “ berdiri dan berjalan menghampiri penjual nasi goreng, dan memesan sepiring nasi goreng tidak pedas.
“ Om, om dari mana sma mau kemana kok sendirian aja “ kembali duduk gadis kecil itu. “ saya dari jauh, mau ke taman kota, ndak ada yang mau nemenin saya jaln – jalan ya jadinya sendirian saya dek “ tersenyum saya mendengar pertanyaan sigadis kecil. “ siapa nama kamu dek ??”
“ nama ku......., ini huruf apa om ?? menunjuk salah satu huruf dipapan nama yang telah melekat dimeja. “ itu Huruf O “ jawab saya. “ ini huruf apa om ?” bertanya sambil menunjuk huruf kedua. “ itu huruf K “ saya jawab lagi. “ kalau ini huruf apa om ?” bertanya untuk ketiga kalinya. “ itu huruf T “ sambil menerka nama sigadis kecil. “ terus ini huruf apa lagi om ?” terasa anak ini sedang mengajak bermain tebak – tebakan. “ itu huruf A ?” telah kudapati dalam benak awal nama dari rangkaian pertanyaan. “ lalu bacanya apa om ?” sekarang malah bertanya kepada saya siapa nama dia. “ lalu bacanya apa huruf – huruf tadi “ saya bertanya lagi siapa namanya dan si gadis kecil itu mengulang prtanyaan tiap huruf sampai tiga kali dengan jawaban saya O.K.T.A tersimpan dalam kepala tapi saya tidak mau berucap. Sampai sigadis kecil itu sendiri yang berucap karena saya tidak mau menebak rangkaian huruf – huruf tadi.
“ Nama saya Okta, om “ jawab lantang si gadis kecil. “ itukan nama awal kamu, kalau nama panjang kamu siapa ?” saya paham kalau nama itu hanya bagian awal. “ Oktavian, nama lengkap saya “ sambil menerima nasi goreng dari bapak penjual.
“ nama yang bagus, kamu sekolah atau tidak “ keli ini saya yang memulai beranya. “ tidak sekolah om, tidak ada biaya buat bayar sekolah “ Oktavian berbicara sambil menyunyah nasi goreng.
Jawaban itu langsung menyambar isi kepala. Mengingatkan saya pada tiga kakak adik yang berjuang hidup di jalanan kota besar. Juga tak mampu memeluk mimpi untuk bersekolah seperti kebanyakan anak – anak lainnya. “ Sehitam inikah kehidupan mereka yang telahir dibawah garis ekonomi, hidup memang tidak adil sangkan paraning dumadi . “ pembicaraan saya pada diri saya sendiri dalam hati.
“ Om, Om sekolah dimana, atau kuliah dimana “ bertanya oktavian si pengamen kecil. “ saya tidak bersekolah, juga tidak kuliah dek “ jawab saya sambil sedikit tersenyum menahan geli jawaban saya sendiri. “ kamu tinggal sama siapa dek dirumah “
“ saya tinggal sama ibu dan bapak, ibu dan bapak juga sedang mengamen di pojok sana “ sambil menunjuk sudut jalan di ujung jalan poros kota. “ kenapa kamu mengamen sendiri, tidak bersama orang tuamu dek “ seolah saya ingin tahu lebih dalam tentang si gadis Oktavian ini. “ kalau mengamen bareng orang tua pemasukan yang orang tua terima tidak seberapa, tapi saya memilih untuk mengamen sendiri supaya bisa membantu orang tua “ jawab Oktavian sambil terus mengunyah nasi goreng.
Seperti terlihat bias matahari menyinari anak gadis kecil bernama oktavian ini, seperti malaikat yang turun didalam garis cahaya surga. Aaahh, sungguk fiksi angan saya. Nyatanya langit tetap menjatuhkan titik – titik air gerimis dan cahaya matahari tidak mampu menembus mendung.
“ kalau sudah habis terus mau membungkus nasi goreng, bilang saja, “ saya melihat sepiring nasi goreng telah tandas tanpa sisa. “ beneran om, saya boleh membungkus makanan “ terheran Oktavian dengan tawaran saya. “ benaran, bilang saja”
“ bapak, bungkus nasi goreng 2 ya “ sambil memberikan piring kotor, Oktavian memesan nasi. “ saya pesan 2 bungkus tidak apa – apa kan om ? Buat ibu sma bapak saya “ sambil menoleh kepada saya. Saya rasa sekarang beneran seperti malaikat kecil yang disorot cahaya langit, seolah langit merestui kebaikan dan kepolosan oktavian. Ternyata sekali lagi bayangan fiksi, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Sambil menunggu nasi goreng siap. Oktavian mengambil gitar kecilnya “ om, saya bernyanyi buat om ya. Anggap saja ini hadiah dari saya “ tampak gitar itu sungguh mungil di dekapan tubuh oktavian. Dengan cekatan oktavian membenarkan string gitar untuk mengatur nada. Dirasa sudah pas, mulailah oktavian bernyanyi riang sambil sesekali menggoyangkan gitarnya ke kanan dan kekiri. Suaranya sungguh imut dan polos meskipun jauh dari nada penyanyi aslinya. Jujur saja saya tidak tau lagu siapa yang dinyanyikan oleh oktavian, karena llagunya terdengar asing bagi saya, atau mungkin saya yang memang goblok soal lagu hits. Tapi suara itu sungguh terdengar tulus, dan mampu menusuk jantung rasa saya, mampus dah saya.... oktavian bernyanyi sambil tersenyum manis seolah juga menghargai hidup yang sedemikian ini. Kali ini saya baru menyadari kalau tubuh oktavian tak seperti anak – anak lainnya, dia terlihat kurus dan kulitnya berwarna sawo matang, tapi wajahnya menyiratkan keceriaan disetiap senyum manisnya.
“ terima kasih ya om, saya mau pualang dulu, sudah sore, nanti ibu sma bapak mencariku “ sambil membawa 2 bungkus nasi, oktavian berpamitan. “ iya sama – sama dek, salam ya buat ibu sma bapak dari kakak “ melambaikan tangan kepada oktavian. “ om, siapa nama om tadi “ samil sedikit berteriak oktavian menanyakan. “ nama saya Bhumi Najayalang “
Bangkit berdiri dan berjalan keluar, kembali langit masih gerimis menjatuhkan tetes – tetes air. Saya berhenti untuk sejenak membiarkan tubuh ini dirajam oleh rintik gerimis yang langsung tembus ke ulu hati. Rasanya sakit tak tertahankan.
Gadis kecil bersenyum manis
Dengan string gitar dan merdunya suara
Mencoba melunakkan kehidupan
Hanya itu yang dia tau. Bernyanyi
Berlari kesana kemari tanpa menyesal
Berpeluh dan lelah juga ikhlas
gemericik bunyi uang recehan
itulah perjuangannya hari ini
dia tak tahu cara untuk mengeluh
dia juga tak tahu cara untuk mengumpat
yang dia tahu hanya Bernyanyi
malaikat kecil bersayap senyuman
datang menghadirkan kebahagiaan
bagi mereka yang menerima
bagi mereka yang mengerti
pengamen kecil di sudut pinggiran kota kecil
namamu oktavian
ungkapan dalam hati saya sendiri tentang dia, malaikat kecil. Tak ku sangka, ternyata saya hampir basah kuyup karena membiarkan gerimis membasahi. Dan saya juga tersadar, kalau saya harus bergegas sebelum terlambat.
Komentar