MENJUAL MAKNA DIRI
PADA MODERNISASI
“ Manusia adalah makhluk yang paling membutuhkan ampun “
Dhan Hyang Loh Gawe
“ selamat siang orang baru, selamat datang di kereta exspress jaladri. Dengan pemberhentian distasiun uripmodern, tolong tiketnya tuan “ kata petugas kereta.
“ selamat siang pak, tiket apa, bukankah kereta ini gratis “ sela calon penumpang
“ anda tidak perlu membayar dengan uang untuk bisa menaiki kereta ini maka gratis, tapi anda diharuskan meninggalkan koper makna – makna hidup yang anda punya “ jawab petugas
“ kampreeeeett, haruskah pak. Koper saya banyak pak, harus saya tinggal semua, lalu modal hidup saya di stasiun uripmodern apa pak “ bantah calon penumpang.
“ pokoknya tinggalkan segala koper makna hidup yang kamu punya, dan distasiun tujuan sudah disediakan koper koper tanpa makna, silahkan tinggalkan koper makna anda dan silahkan naik “ sang petugas berusaha menyeret dan melemparkan calon penumpang dengan paksa.
Mungkin seperti itu ketika kita mulai ingin memasuki kehidupan modern, sang penjaga tiket tak ubahnya paksaan dan himpitan peradaban, sedangkan kereta adalah sang waktu yang akan membawa kekehidupan masa depan.
Jika manusia adalah mahkluk paling membutuhkan ampun, itu berarti kita menjalani kehidupan untuk menjadi pribadi lebih baik bukan sempurna, karena manusia tidak akan mencapai kesempurnaan. Sedangkan kesempurnaan bagi pandangan manusia itu sendiri tidak sempurna. Untuk menjadi manusia yang lebih baik secara moralitas kita mencari makna makna kehidupan dengan menempa pribadi sendiri. Pencarian dari dalam agama, budaya, adat istiadat bahkan kesengsaraan terkadang mampu memberikan maknanya sendiri.
Makna pertama yang didapat manusia adalah hakikat kalau manusia adalah makhluk sosial, tergambar dari anatomi dan organ tubuh manusia yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam tingkatan kesosialisaan pribadi manusia bersosialisasi dengan organ tubuhnya sendiri. Pada lingkungan kehidupan manusia besosialisasi dengan makhluk hidup lainnya. Dampak dari sosial adalah terciptanya hubungan ikatan baik secara fisik maupun ikatan rasa.
Ikatan manusia memberikan banyak makna tentang hidup, tentang kasih, tentang cinta ( sedang saya tidak tau apa itu cinta ) yang digadang gadang lebih ampuh dari bedil, tentang kekeluargaan, tentang keluarga, tentang kebaikan nurani, belas kasih, apapun itu makna yang menjadikan kita lebih baik untuk mendapatkan pengampunan.
Kehidupan modern, kehidupan yang digadang gadang memberikan kesejahteraan dan kenikmatan dalam hidup. Para ilmuwan dan saintis berlomba lomba menciptakan kemudahan dan kenyamanan, tercipta telephone, kendaraan bermotor, kapal laut, kereta, gedung gedung pencakar langit, jembatan panjang yang kokoh, hanya menekan tombol dan semuanya akan beres. Gerbang menuju kehidupan modern berupa pengetahuan dan dengan menjual makna makna hidup maka modern bisa didapatkan.
Menjual makna diri pada kehidupan modern bukan sesuatu yang salah, karena memang itu harga yang terkadang harus dibayar. Manusia sering menjadi bukan dirinya dikehidupan modern, manusia terkadang menjadi penguasa yang sombong, bahkan terkadang lupa bahwa diri memiliki rasa, karso lan budi dalam mendasari perilaku bersosialisasi. Makna makna itu semakin menipis, karena dianggap perilaku kuno tidak sesuai dengan kehidupan modern.
Itu berarti apa kehidupan kuno tidak layak untuk masuk dalam lingkungan kehidupan modern ?
Kehidupan kuno merupakan kehidupan yang mengacu pada keselarasan alam. bagi orang – orang lama mereka memperoleh kebijaksanaan dari alam. Dari alam banyak makna makna yang bisa diperoleh kemudian menjadi contoh kebijaksanaan atas cakra manggilingan. Banyak petapa -petapa kuno melarikan diri dari hidup perkotaan dan menuju hutan belantara. Berkehidupan selaras dengan alam masyarakat mampu menciptakan norma, adat, kepercayaan demi menyelaraskan nafas kehidupan manusia dengan gelagat kedurhakaan.
Seiring berjalannya peradaban menuju modernisasi manusia melupakan kebijaksanaan bersama alam. Berawal dari penebangan alam hanya untuk mengisi perut perut gendut manusia memuulai juga menebang sedikit demi sedikit kebijaksanaan dari alam. Dari pembantaian alam kemudian mencoba membantai binatang, dirasa kurang manusia mulai mencoba membantai manusia demi perut perut gendut. Merasa bisa mengendalikan kehidupan atas sesamanya manusia mulai merasa ponggah, sombong dan acuh. Dari rasa itu manusia memulai kehidupan tanpa tatapan mata dan telinga. Jadilah manusia modern tanpa kemanusiaan ( tidak semuanya ) sebagian menjadi manusia setengah modern.
Gugurnya kerajaan kerajaan masa lalu juga terpengaruhi oleh gelagat nafsu atas kekuasaan yang menuju pada modernisasi kehidupan lama ( penjajahan ) . lalu kehidupan modern itu apakah sebuah kenistaan atau kenikmatan ? Seperti dalam ilmu Agama “ apapun yang membuat nikmat akan meuju pada angkara nafsu “ . jangan jual makna makna yang engkau punya untuk bisa masuk ke kehidupan modern. Tapi biarlah kehidupan modern yang akan menjual dirinya untuk bisa menikmati kehidupan yang bermakna.
Komentar