Malam tanpa Rembulan. Langit tampak luluh lantak menggulung awan – awan hitam disertai angin yang membabi buta menyapu membawa awan - awan hitam untuk menutupi jagat Bhuwana . Bumi manusia bermandikan air hujan yang turun bagai langit mencurahkan segala persediaan airnya pepohonan tampak basah kuyup, binatang binatang rimba tampak gelisah mencari tempat bernaung, terlihat anak – anak burung bersembunyi dalam ketiak ibunya mencari perlindungan dari dinginnya maruta. Sekawanan burung hantu takut terbang jauh menjelajah. Binatang upnormal memilih untuk meringkuk dalam sarangnya mencoba untuk menjadi binatang normal yang memilih untuk tidur dimalam hari. Manusia – manusia mencoba untuk melarutkan kegelisahannya, dalam satu bangunan beratap rumbia berdinding kayu dibawah naungan pohon asam jawa. Seorang lelaki tua tampak gelisah melihat hujan dimalam ini. Lelaki itu merasa was – was bilamana air hujan terus turun bagai air bah akan membikin sungai meluap membanjiri rumah lelaki tua...
Petikan buih buih ombak yang tergelar dalam samudra kehidupan, tertulis dalam pasir putih awan awan hati manusia. Guguran daun daun cakra manggilingan yang terjewantahkan dalam sastra sastra dan tulisan tentang seonggok daging beserta galihnya. kidung - kidung suci dari manusia yang tumbuh bersama panji panji dharma kebaikan cipta budi wening.