Langsung ke konten utama

Menggembalakan Hujan

 

Malam tanpa Rembulan. Langit tampak luluh lantak menggulung awan – awan hitam disertai angin yang membabi buta menyapu membawa awan - awan hitam untuk menutupi jagat Bhuwana. Bumi manusia bermandikan air hujan yang turun bagai langit mencurahkan segala persediaan airnya pepohonan tampak basah kuyup, binatang binatang rimba tampak gelisah mencari tempat bernaung, terlihat anak – anak burung bersembunyi dalam ketiak ibunya mencari perlindungan dari dinginnya maruta. Sekawanan burung hantu takut terbang jauh menjelajah. Binatang upnormal memilih untuk meringkuk dalam sarangnya mencoba untuk menjadi binatang normal yang memilih untuk tidur dimalam hari.

Manusia – manusia mencoba untuk melarutkan kegelisahannya, dalam satu bangunan beratap rumbia berdinding kayu dibawah naungan pohon asam jawa. Seorang lelaki tua tampak gelisah melihat hujan dimalam ini. Lelaki itu merasa was – was bilamana air hujan terus turun bagai air bah akan membikin sungai meluap membanjiri rumah lelaki tua. Sesekali lelaki tua itu melongok keluar jendela untuk memperhatikan luapan air sungai yang tampak pada jarak dua selemparan anak panah.

“ sudahlah Ki, biarlah hujan turun sesuai kehendak air itu sendiri “ sapa wanita tua yang terbangun karena angin dingin masuk melalui jendela yang terbuka.

“ Saya takut rayi, bila hujan tanpa reda seperti ini rumah kita akan kebanjiran “ jawab lelaki tua sambil menutup kembali jendela.

“ usah kau risaukan Ki, apa yang hendak kita selamatkan dari gubuk reyot ini. Bila banjir datang kita cukup mengungsi ke atas bukit “ dengan tenang wanita tua itu menenangkan lelakinya yang terlihat gelisah. Sejenak mereka kembali mencoba merangkul mimpi dan berharap sungai tidak meluap.


Disudut kota yang berhiaskan lampu berwarna warni, tepat tengah malam hujan masih belum puas untuk membasahi bumi manusia. Lampu – lampu jalanan masih bersedia memberikan cahayanya untuk menerangi malam disaar lentera malam memilih untuk berselimut awan hitam. Disudut lorong kota yang sunyi dibawah naungan gedung – gedung megah yang tampak angkuh menghalangi cahaya lampu jalanan. Soerang gadis kecil tanpak gelisah sambil meringkuk memeluk lutut yang ditekuk, dengan hanya berselimut jarit gadis kecil itu mencoba tidur disamping ibunya untuk meneguk kehangatan. Ibunya wanita setengah baya yang telah ditinggal suaminya pergi ke dunia yang lebih sunyi lagi. Sang ibu mencoba menenangkan gadis kecilnya untuk tidur.


“ tidurlah nak, hujan ini tiada menampakkan untuk reda. Kesini mendekatlah biar engkau hangat “ kata sang ibu merayu anaknya.

“ tapi saya juga lapar mbok “ sela sang gadis kecil.

“ pegang perutmu nak, semoga kehangatan jemarimu meluluhkan rasa laparmu untuk malam yang dingin ini. “

“ iya mbok, kapan bapak akan pulang mbok “ tanya sang gadis kecil

“ sudah nak, engkau tidur dulu saja, bapak.mu lagi menanti kita datang nak. Usah engkau bersedih seperti awan – awan diatas sana “ jawab sang ibu sambil menjulurkan tangan menunjuk langit gelap gulita tang tampak daro lubang kisi – kisi rumahnya, atau boleh dibilang atap yang bolong.


Rembulan kembali merangkah dari balik gumpalan awan hitam yang masih setia mengucurkan airmatanya. Merangkak lebih jauhlagi kedalam lipatan – lipatan awan kehidupan bersama hujan. Seolah olah Rembulanlah yang menggembalakan hujan dimalam ini, menggembalakan menjelajah luasnya jaladri.

*****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2

Salam lestari kawan kawan pecinta maupun penggiat dan para aktifis lingkungan, salam hijaukan bumi. kali ini saya akan membagikan pengalaman saya serta keceriaan di dalam acara Aksi Seni Untuk Lingkungan yang ke-2. acara Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2 ini kami mengambil tema " Darurat Agraria ". dengan alasan untuk melanjutkan tugas kita selanjutnya. Aksi Seni Untuk Lingkungan ke-2 kami adakan di taman kota salatiga. sekaligus untuk mempopulerkan dan mengenalkan taman kota salatiga kepada para penggiat outdoor dan para pecinta alam di berbagai kota. karena acara ini akan dihariri oleh peserta dari berbagai kota di jawa tengah bahkan bisa sampai di luar jawa tengah. tema " Darurat Agraria " kami ambil bukan dengan maksut yang sembarangan, kami ambil dengan maksut untuk memperingatkan dan memberikan informasi kepada publik, kalau di tanah tercinta ini sedang mengalami darurat agraria, lahan pertanian yang telah di porak porandakan oleh para kapitalisme. deng...

Menjelajah Danau Biru Cisoka

kawan, kalian pasti ada yan pernah mendengar atau mengunjungi danau biru cisoka, yang sudah pernah kesana pasti kalian tak akan mencari artikel tentang itu, ya ini pengalaman saya waktu menjelajah danau biru cisoka, yang katanya warna air disini sebiru cintaku pada dia, atau sebiru warna matamu, atau mungkin sebiru langit pagi, yang penting birulah. danau biru cisoka, berada di wilayah tigaraksa, banten. untuk menuju kesini saya memilih untuk naik KRL, karena kalau pakai kendaraan pribadi mungkin saya akan tersesat dan tak bisa pulang ke hatimu, hehehe..... saya berangkat dari tangerang, ketapang, cipondoh, di kontrakan saya, iyalah saya disini cuman perantauan. itu alamat sementara, alamat sesunguhnya nanti sesuai alamat rumah si.dia. biar ndak tersesat lagi arah pulang. dengan mengunakan KRL, perjalanan dari stasiun kalideres menuju stasiun tigaraksa, membutuhkan waktu kurang lebih 2jam. dan dari stasiun kalideres pertama harus transit di stasiun tanah abang, dari stasiun ta...