Rembulan, konyol kau... Bodoh sekali ternyata dirimu Atau memang nalarmu sudah rontok Hingga semesta ingin kau jadikan malam Pelita pelita malam ingin kau rengguk Umpat sang awan.... Apa gunanya nalar didunia yg masih penuh lelucon ini Bukankah lelucon juga hasil dari nalar Pelita pelita malam juga sudah lelah Masihkah kau melihat bintang bintang dilangit Masihkah kau mendengar wedaring wacana mulya Mereka hanya sedang merangkai waktu berlelucon dengan nalar hari esok Kesejatian dari masa depan adalah Masa depan tanpa lelucon Vuri kristanto
Malam tanpa Rembulan. Langit tampak luluh lantak menggulung awan – awan hitam disertai angin yang membabi buta menyapu membawa awan - awan hitam untuk menutupi jagat Bhuwana . Bumi manusia bermandikan air hujan yang turun bagai langit mencurahkan segala persediaan airnya pepohonan tampak basah kuyup, binatang binatang rimba tampak gelisah mencari tempat bernaung, terlihat anak – anak burung bersembunyi dalam ketiak ibunya mencari perlindungan dari dinginnya maruta. Sekawanan burung hantu takut terbang jauh menjelajah. Binatang upnormal memilih untuk meringkuk dalam sarangnya mencoba untuk menjadi binatang normal yang memilih untuk tidur dimalam hari. Manusia – manusia mencoba untuk melarutkan kegelisahannya, dalam satu bangunan beratap rumbia berdinding kayu dibawah naungan pohon asam jawa. Seorang lelaki tua tampak gelisah melihat hujan dimalam ini. Lelaki itu merasa was – was bilamana air hujan terus turun bagai air bah akan membikin sungai meluap membanjiri rumah lelaki tua...